Media Berita Kota Batu – Dunia pendidikan di Kota Batu diprediksi akan menghadapi tantangan serius pada tahun 2026 mendatang. Pemerintah Kota Batu mengantisipasi potensi kekurangan guru tingkat Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) seiring dengan banyaknya tenaga pendidik yang memasuki masa pensiun. Persoalan ini dinilai sebagai masalah klasik yang hingga kini belum sepenuhnya terpecahkan.

Data sementara menunjukkan bahwa dalam dua tahun ke depan, puluhan guru di berbagai sekolah negeri akan memasuki usia pensiun. Kondisi ini dikhawatirkan berdampak langsung terhadap keberlangsungan proses belajar mengajar, terutama di sekolah-sekolah pinggiran yang selama ini sudah minim tenaga pendidik.
“Kekurangan guru ini sudah mulai terasa, dan pada 2026 nanti jumlahnya diprediksi akan semakin signifikan karena banyak guru yang pensiun,” ujar salah satu pejabat Dinas Pendidikan Kota Batu, Senin (1/12/2025).
Baca Juga : Realisasi Koperasi Merah Putih di Kota Batu Mengalami Kendala Keterbatasan Lahan, Masih Ada 5 Unit
Kekurangan Guru Sudah Terasa
Saat ini, beberapa sekolah di Kota Batu telah mengalami kekurangan guru mata pelajaran tertentu. Untuk menutup kekosongan tersebut, sejumlah sekolah terpaksa memberlakukan sistem guru rangkap mata pelajaran atau memanfaatkan tenaga honorer. Namun, solusi ini dinilai belum ideal karena berdampak pada beban kerja guru dan kualitas pembelajaran.
“Kami masih mengandalkan guru honorer untuk menutup kekurangan, tapi jumlahnya juga terbatas dan kesejahteraannya belum optimal,” ungkap seorang kepala sekolah SMP negeri di Kota Batu.
Pemkot Batu Siapkan Langkah Antisipasi
Pemerintah Kota Batu melalui Dinas Pendidikan mengaku telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Di antaranya dengan mengusulkan formasi tambahan guru dalam seleksi P3K, melakukan pemetaan kebutuhan guru secara menyeluruh, serta mengoptimalkan distribusi tenaga pendidik antar sekolah.
“Kami sedang menyusun peta kebutuhan guru hingga lima tahun ke depan. Ini penting agar kekurangan tidak semakin melebar,” jelas pejabat Dinas Pendidikan tersebut.
Pemkot Batu juga mendorong pemerintah pusat agar memberikan perhatian khusus terhadap daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru akibat gelombang pensiun massal.
Kekhawatiran Orang Tua dan Pemerhati Pendidikan
Rencana kekurangan guru ini turut menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua siswa dan pemerhati pendidikan. Mereka menilai pemerintah harus bergerak cepat agar kualitas pendidikan di Kota Batu tidak mengalami penurunan.
“Kalau kekurangan guru dibiarkan, tentu yang dirugikan adalah siswa. Jangan sampai anak-anak tidak mendapat hak pendidikan yang optimal,” ujar salah seorang perwakilan orang tua siswa.
Perlu Solusi Jangka Panjang
Pemkot Batu menilai persoalan kekurangan guru bukan hanya persoalan rekrutmen, tetapi juga perencanaan jangka panjang yang harus terintegrasi dengan kebijakan pendidikan nasional.
Dengan tantangan yang semakin nyata di depan mata. Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi Kota Batu untuk membenahi kembali tata kelola sumber daya manusia di sektor pendidikan. Agar tidak terjadi krisis guru yang berkepanjangan.






