Media Berita Kota Batu – Rencana pengoperasian Bus Trans Jatim Malang Raya di wilayah Kota Batu menimbulkan kekhawatiran bagi para pengemudi angkutan kota (angkot). Mereka cemas pendapatan akan menurun drastis lantaran sebagian besar rute angkot kini beririsan dengan trayek yang akan dilalui bus tersebut.
Dari data sementara, tercatat sekitar 25 unit angkot yang dipastikan terdampak langsung oleh perubahan rute Bus Trans Jatim Malang Raya. Rute tersebut menghubungkan Kota Malang – Kota Batu melalui jalur utama, yang menjadi jalur operasional utama sebagian besar angkot setempat.
Kekhawatiran Penurunan Pendapatan
Salah satu sopir angkot trayek Batu–Terminal Landungsari, Slamet (47), mengaku gelisah sejak wacana pengoperasian Bus Trans Jatim muncul. Menurutnya, keberadaan bus besar berpendingin udara dan bertarif murah jelas akan membuat penumpang beralih dari angkot konvensional.
“Sekarang saja penumpang sudah berkurang karena banyak yang pakai motor dan ojek online. Kalau nanti ada Bus Trans Jatim lewat rute yang sama, bisa-bisa kami berhenti jalan,” ujarnya, Kamis (30/10/2025).
Slamet berharap pemerintah tidak hanya menghadirkan transportasi baru, tetapi juga memikirkan nasib para sopir angkot yang menggantungkan hidup dari trayek tersebut.
Baca Juga : Pameran Perumahan dan Perizinan di Balkot Among Tani, Disperkim Kota Batu Gandeng Pengembang Berizin
Dishub Batu Siapkan Skema Penyesuaian
Menanggapi kekhawatiran itu, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batu, Imam Wahyudi, mengatakan pihaknya tengah menyiapkan skema penyesuaian rute dan integrasi moda transportasi lokal.
“Kami memahami keresahan para sopir. Karena itu, pemerintah daerah bersama Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur akan mengkaji kemungkinan integrasi trayek antara Bus Trans Jatim dan angkutan kota agar semuanya tetap berjalan,” kata Imam.
Dishub juga berencana melakukan pendataan ulang armada angkot yang terdampak. Serta membuka ruang dialog dengan paguyuban sopir angkot untuk mencari solusi bersama.
Harapan Integrasi Transportasi
Pemerintah menegaskan, kehadiran Bus Trans Jatim bukan untuk mematikan angkutan lokal, melainkan untuk menciptakan sistem transportasi yang efisien, terjangkau, dan saling melengkapi.
“Kalau bisa diintegrasikan, misalnya angkot menjadi pengumpan (feeder) ke halte bus, maka kedua moda transportasi bisa sama-sama hidup,” tambah Imam.
Meski demikian, di lapangan para sopir tetap berharap pemerintah memberikan kompensasi atau alternatif pekerjaan. Bila nantinya jumlah penumpang mereka benar-benar turun drastis.






