Media Berita Kota Batu — Pemerintah Kota Batu bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) mendorong pembangunan Penangkap Mata Air (PMA) sebagai solusi untuk mengatasi semakin berkurangnya sumber air di wilayah Kota Batu. Program ini juga ditujukan untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat di masa mendatang.

Data Pemerintah Kota Batu menunjukkan, jumlah sumber mata air di wilayah tersebut mengalami penurunan signifikan. Dari semula 111 titik mata air, kini hanya tersisa sekitar 58 titik aktif. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Kota Batu merupakan daerah hulu yang menyuplai air untuk wilayah Malang Raya.
Dampak Alih Fungsi Lahan dan Pembangunan
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu, Rina Ariyanti, menjelaskan bahwa berkurangnya mata air dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain alih fungsi lahan, pembangunan yang tidak ramah lingkungan, serta dampak perubahan iklim.
“Banyak daerah resapan air yang berubah menjadi kawasan permukiman atau pertanian intensif. Kondisi ini mempercepat hilangnya cadangan air tanah dan menurunkan debit mata air secara signifikan,” ujarnya.
Menurut Rina, proyek pembangunan Penangkap Mata Air akan menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan sumber daya air sekaligus mendukung konservasi lingkungan di wilayah pegunungan.
Baca Juga : Downhiller Muda Asal Kota Batu, Pandu Raih Gelar Juara Umum 76 Indonesian Downhill 2025 di Klemuk
Dukungan DPR RI
Anggota Komisi IV DPR RI, Ir. H. Dedi Mulyadi, yang hadir dalam pertemuan bersama Pemkot Batu, menyatakan dukungannya terhadap program tersebut. Ia menilai pembangunan PMA perlu melibatkan masyarakat sekitar agar hasilnya berkelanjutan.
“Pembangunan penangkap mata air bukan hanya proyek fisik, tetapi gerakan sosial untuk memulihkan keseimbangan alam. Keterlibatan masyarakat dalam menjaga sumber air menjadi kunci utama keberhasilan program ini,” ujar Dedi.
Menuju Kota Batu Berkelanjutan
Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, menyambut baik dukungan pemerintah pusat dan DPR RI. Ia menyebut proyek PMA akan diprioritaskan pada wilayah dengan tingkat penurunan debit air tertinggi.
“Kami ingin memastikan bahwa generasi mendatang tetap bisa menikmati air bersih. Melalui kolaborasi lintas sektor, kita berupaya menjadikan Kota Batu sebagai kota berkelanjutan yang harmonis dengan alam,” kata Dewanti.
Pemerintah Kota Batu berencana memulai pembangunan tahap pertama PMA pada awal 2026, disertai program edukasi lingkungan bagi masyarakat.






